Apa Kabar “Death by Football”? (Part 1)

Ditulis untuk forum bigreds iolsc pada 26 Februari 2014 APA KABAR DEATH BY FOOTBALL?

dbf

Apa itu “Death by Football”?

Menarik memang mencermati gaya main Liverpool FC di lapangan hijau. Filosofi “Death by Football” yang diperkenalkan Brendan Rodgers memang belum sepenuhnya berjalan. Tetapi perubahan style terlihat cukup signifikan terlihat. Gaya main yang digubah sang manajer bahkan banyak disebut paling atraktif di ranah Britania Raya saat ini. Tak perlu terburu membahas sejauh mana implementasi filosofi yang dibawa oleh pelatih kelahiran Irlandia Utara ini. Ada baiknya berkenalan dulu dengan falsafah tersebut dalam bagian pertama (Part 1) artikel di thread ini.

Istilah “Death by Football” sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Brendan Rodgers pada September 2012, tak lama setelah ia didapuk secara resmi menjadi manajer tim berlambang burung Liver. Tepatnya pada sebuah gathering fans dari beberapa website, blog, podcast, majalah dan radio di Melwood, tempat latihan Liverpool. Dalam diskusi tersebut pria yang memulai karir manajer pada musim 2008/2009 (Watford), menjelaskan soal obsesinya terhadap possession football.

Brendan Rodgers: “When you’ve got the ball 65, 70 percent of the time, it’s a football death for the other team… it’s Death by Football”. (www.thisisanfield.com)

“Death by Football” memang terkait erat dengan filosofi penguasaan bola (possession football) . Sistem ini (dalam kondisi ideal) tak jauh berbeda dengan tiki-taka yang diusung Barcelona dan Bayern Munich asuhan Pep Guardiola. Pun demikian dengan Tim Nasional Spanyol era Luis Aragones dan Vicente del Bosque. Itu pula alasan Swansea besutan Rodgers acap dijuluki Swansealona, mengacu pada Barcelona. Cukup lama tak terdengar, kata-kata yang secara bebas berarti “Kematian oleh Sepakbola” muncul kembali. Serangkaian kemenangan meyakinkan Liverpool atas Totteham Hotspur (5-0), Everton (4-0) dan Arsenal (5-1) menjadi pemicunya.

Peran Berdasar Zona

Tetapi falsafah ini tidak melulu tentang mendominasi penguasaan bola semata, metodologi atau pendekatan sistem permainannya juga penting. Mari kita coba pahami tentang metodologi yang sering disebut-sebut oleh Brendan Rodgers. Berikut ini sistem permainan “Death by Football” saat menguasai bola dalam formasi 4-3-3. Rodgers menjelaskan peran masing-masing pemain berdasar posisinya dalam delapan (8) zona yang digambarnya.

formasi
Gambar: Zona dan Peran Pemain

Zone 1 – Sweeper Goalkeeper
Suporter Liverpool pasti sering kesal melihat pemain belakang Liverpool dianggap terlalu sering mengumpan bola kepada kiper. Padahal sebenarnya tak ada yang salah, cara bermain seperti itu memang yang dipilih dan diinstruksikan bos Liverpool. Seperti juga tiki-taka, “Death by Football” yang juga berakar pada “totaal-voetbal”. Saat menguasai bola Rodgers menginginkan 11 pemain ikut bermain, bukan 10 pemain + 1 penjaga gawang seperti tim lain. Ini jadi salah satu pembeda. Idealnya penjaga gawang yang bermain di posisi ini memiliki ketenangan saat menguasai bola dan ditekan lawan, punya visi menyerang bagus dan memiliki akurasi umpan yang baik.
Pemain: Lupakan pemain lain, saat ini Simon Mignolet tak ada saingan di posisi penjaga gawang.

Zone 2 – Ball-playing Center Back
Sama seperti penjaga gawang, bek tengah juga diharapkan mampu “bermain” bola, bukan hanya jago bertahan dan menghalau bola. Bek tengah juga diminta lebih banyak bermain umpan pendek ketimbang memberi umpan lambung langsung ke area pertahanan lawan. Dalam pendekatan possession football, bek tengah bermain agak jauh ke depan membentuk garis pertahanan yang tinggi. Dilakukan untuk memberi tekanan yang lebih berat kepada pemain lawan. Bahkan bek tengah tidak tabu untuk ikut maju sampai ke daerah pertahanan lawan. Gerard Pique (Barcelona) adalah contoh yang paling tepat untuk peran ini. Idealnya hanya salah satu dari dua center back (CB) yang aktif ikut menyerang, saat itu peran bertahannya akan digantikan oleh regista.
Pemain: Skrtel, Agger, Sakho, Kolo Toure.

Zone 3 – Regista

RODGERS MENCARI REGISTA

Dibutuhkan pemain yang punya kemampuan komplit dalam bertahan sekaligus menyerang. Regista mampu mengintersep, melakukan tekel, dan memenangkan duel one-on-one. Selain itu juga tenang dalam menguasai bola dan saat berada dalam tekanan lawan, umpan-umpannya variatif dan akurat. Regista alias deep-lying playmaker juga harus selalu ada saat kolega membutuhkan solusi kemana harus mengumpan. Ia juga bertugas memulai serangan, sehingga harus juga punya intelegensi tinggi, visi bermain oke dan mampu membaca permainan. Saat ini Gerrard yang bermain di zona 3, so far so good. Sang maestro di posisi ini, Andrea Pirlo, secara khusus memberi pujian Kapten Liverpool terkait peran barunya itu.
Baca Juga: GERRARD SANG PENYINTAS
Pemain: Gerrard, Leiva, Allen.

Zone 4 – Bek Sayap
Termasuk posisi paling sibuk dalam skema, karena berperan sama besar saat bertahan dan menyerang. Idealnya bek sayap cakap dalam penguasaan bola, mahir menggiring bola, pelari kencang dan punya stamina bagus. Berperan penting dalam penguasaan bola karena menjadi alternatif lalu-lintas umpan agar tak mentok di area tengah. Full-back/Wing-back berfungsi juga mengkontruksi segitiga penguasaan bola (triangular possession) bersama dengan semua pemain di semua zona.
Pemain: Johnson, Flanno, Kelly, Cisshoko, dan Enrique. Jika ada pertanyaan siapa full back paling ideal yang dimiliki LFC saat ini? Saya pribadi punya jawaban nyeleneh: Raheem Sterling.

Zone 5 – Gelandang Kreatif
Sering disebut sebagai box-to-box midfielder. Gelandang mobile yang selalu mencari posisi lowong di tengah padatnya lalu-lintas permainan. Sehingga memungkinkan terbentuknya triangular possession untuk mempertahankan penguasaan bola. Umpan kombinasi (wall-pass) dan umpan terobosan menjadi senjata utama penghuni zona 5 untuk mengkreasi peluang. Jadi saat menguasai bola, ia harus memilih satu saja dari dua pilihan. Pertama memberi umpan mematikan (assist). Jika pilihan pertama itu tak memungkinkan bola harus dipertahankan lebih lama dengan umpan-umpan sederhana. Pemain di zona 5 juga menjadi alternatif pendulang gol bagi tim.
Pemain: Allen, Henderson, Coutinho, Alberto.

Zone 6 – Inside Forward
Nathan Dyer, Sinclair, Raheem Sterling, dan Luis Suarez adalah pemain kepercayaan Rodgers dalam peran di zona 6 (Swansea dan Liverpool). Meskipun tidak bisa dibandingkan kualitas masing-masing, tetapi karakteristik mereka sebenarnya cukup mirip. Berteknik memadai dan punya kreativitas yang tinggi. Posisinya berada di belakang striker utama. Dalam format 4-3-3, zona 6 diisi oleh penyerang sayap. Namun dalam strategi berbeda, bisa saja pos ini ditempati oleh gelandang serang tengah atau second striker (number 10 role). Merupakan Team-player yang lebih sering berperan sebagai pelayan, meskipun tetap bisa mengkonversi peluang menjadi gol.
Pemain: Suarez, Sterling, Coutinho, Moses, Alberto, Sturridge.

Zone 7 – Targetman
Bekal yang dibutuhkan striker utama adalah teknik yang memadai, termasuk sentuhan bola pertama saat menerima umpan. Kapabel untuk bermain kombinasi dan punya pergerakan tanpa bola yang istimewa. Makin komplit jika ditambah dengan kecepatan. Rasio konversi gol yang tinggi tentu saja jadi atribut penting bagi seorang ujung-tombak.
Pemain: Suarez, Sturridge, Aspas.

Zone G (8) –Zona Gol
Seberapa sering suporter Liverpool melihat dua bek sayap kiri maupun kanan melakukan umpan silang ke kotak sebelum memasuki zona G? Tidak sering atau bahkan tidak akan pernah. Umpan silang dalam falsafah “Death by Football’ seolah hanya menjadi pilihan terakhir. Dilakukan ketika benar-benar yakin potensi menjadi gol cukup tinggi. Agar lebih efektif dikonversi menjadi gol, umpan crossing hanya boleh dilakukan dari Zona G, atau sebutlah sebagai zona gol. Area yang sejajar dengan kotak 16m dalam pertahanan lawan ini memang menjadi wilayah optimal untuk memberi umpan matang sekaligus mencetak gol.

Menang Lebih Penting

Pendekatan permainan berdasar zona itu yang diterapkan di Liverpool saat menguasai bola. Formasi tersebut adalah rancang-bangun dasar yang bisa berubah menyesuaikan dengan berbagai kondisi. Semisal kekuatan lawan yang dihadapi dan sumber daya (pemain) yang tersedia. Liverpool cukup beruntung karena meskipun skuat tipis, tetapi cukup banyak pemain yang bisa melakoni lebih dari satu posisi. Meskipun formasi bisa berubah tetapi pembagian zona dan peran pemain dalam zona tersebut tetap sama. Saat bermain dengan formasi ultra-ofensif 4-2-4 misalnya, akan ada dua pemain yang beroperasi di Zona 7 sebagai target-man, didukung dua pemain di zona 6 sebagai inside-forward. Atau saat bermain dengan tiga bek, maka salah satu CB akan menggantikan peran pemain di zona 3 dalam bertahan.

Seberapa jauh “Death by Football” telah diterapkan di Liverpool FC? Lebih lengkap akan coba dibahas dalam artikel bagian kedua. Lebih bagus lagi kalau ada diskusi di sini.
Possession football yang sempurna memang membutuhkan pemain berbakat yang dianugerahi teknik tinggi di berbagai posisi. Sehingga sejauh mana bisa diterapkan sangat tergantung materi pemain yang dimiliki. Tak bisa dipaksakan. Rodgers sadar akan hal itu, ia tentu juga maklum bahwa sepakbola modern adalah bisnis tentang menang dan kalah. Sehingga meraih kemenangan kemudian ditempatkan lebih dulu dari gaya bermain. Pragmatis? Tidak juga, karena manajer berusia 41 tahun ini tetap ingin Liverpool tampil atraktif untuk meraih kemenangan.

“We’re in the BUSINESS OF WINNING, and hopefully we can ENTERTAIN along the way,” Brendan Rodgers. (The Independent)

Saya sih merasa cukup terhibur. Kalau kamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s