Bali Safari & Marine Park

NOTE: Dimuat di majalah Flona edisi 78, terbit bulan Agustus2009

Melancong Mengenali Aneka Satwa

gajah

Tepuk riuh terdengar, saat para gajah mengangkat belalai serempak memberi hormat. Sekaligus menandai berakhirnya Elephant Show.

Aplaus juga acap terdengar sepanjang pertunjukan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) berdurasi sekitar 45 menit. Atraksi kocak jalan terpincang sampai pura-pura mati tertembak fasih dilakoni. Dikemas ringan dan menghibur namun memuat unsur edukasi. Menuturkan kehidupan dan konflik gajah dengan manusia, penyebab utama penurunan drastis populasi gajah. “Selain showcase, edukasi juga jadi tujuan keberadaan Gajah Sumatera di sini,” ungkap Hans Manangsang, General Manager Bali Safari & Marine Park (BSMP) di Gianyar, Bali.

Masih bisa disaksikan juga acara parade gajah tiap Sabtu dan Minggu pagi, mandi gajah tiap siang dan sore, sampai ikut berakting di pertunjukan Hanuman Show. Tentu tak bisa dilewatkan skedul pokok Elephant Back Safari, yakni sekitar 30 menit menunggang satwa berbelalai berkeliling area.

Satwa yang mampu menghabiskan 300 kg rumput dan buah-buahan ini cukup cerdas dan bisa dilatih berakting. Harus diingat, ia juga sangat sensitif dengan rasa sakit. Makanya jangan pernah berpikir untuk menyakitinya. “Kita mengajari hanya satu atraksi. Gerakan yang diajarkan juga lazim dilakukan di habitatnya. Gajah memang satwa yang harus bergerak dalam hidupnya,” kata Hans.

Gajah sumatera memang mendapat perhatian cukup serius dari grup Taman Safari Indonesia. Sejak tahun 1980an, mereka terlibat dalam operasi penyelamatan gajah, termasuk pembentukan Balai Latihan Gajah di Way Kambas, Lampung. Sub spesies gajah Asia ini memang masuk dalam kategori CITES I alias terancam punah. Populasinya saat ini berkisar 2.400 – 2.800 ekor.

unta

Asia – Afrika

Sajian utama BSMP sebenarnya berkendara dengan Safari Exploration Truck. Selama 45 menit di dalam truk, pelancong bisa bersua dengan beragam fauna khas Nusantara, macam Anoa (Bubalus sp.), Orangutan (Pongo pygmaeus), dan Rusa Timor (Cervus timorensis). Dalam perjalanan yang melewati total 8 jembatan buatan, aneka satwa asal benua Afrika pun bisa disapa. Sebut saja Grevy’s Zebra (Equus grevyi) yang punya pola loreng rapi. Tahukah Anda, pola loreng di tubuh zebra berbeda setiap individu? Jadi hampir serupa dengan sidik jari manusia.

Bisa dijumpai pula Wide Lipped Rhinoceros (Ceratotherium simum) alias badak bermulut lebar asal Afrika. Namun akibat “lidah keseleo” badak berkulit abu gelap dan bercula dua ini jamak disebut White Rhino. Salah sebut itu sedikit berfaedah untuk membedakan dengan Black Rhino. Kuda nil (Hippopotamus amphibius) juga bakal nongol saat truk menyeburkan diri ke badan air. Binatang buas macam Harimau (Phantera tigris), Singa Afrika (Panthera leo), dan Leopard (Panthera pardus) juga bisa dijumpai selama trip.

Usai berkeliling naik truk eksplorasi, jangan buru-buru pulang. Masih banyak satwa lain yang bisa ditemui macam aneka unggas, komodo sampai Harimau Bengala berambut putih berloreng. Cermati pula jadwal pementasan yang sayang kalau terlewat, karena sebagian bisa dinikmati tanpa harus membayar lagi. Sebagai kenang-kenangan, tiada salahnya berpose bareng aneka jenis satwa termasuk ular, gajah dan singa di depan kamera.

Say cheese!

Teks/Foto: Rudi

tsavo
FOTO: Tsavo Lion Resto

Makan Bersama Singa

Tsavo adalah nama kawasan di Kenya Afrika. Tempat terjadinya peristiwa dua singa Afrika membunuh 135 pekerja pembangunan rel kereta api penghubung Kenya-Uganda. Ghost dan Darkness, julukan sepasang singa pembunuh dari Tsavo, kemudian tertembak oleh Letkol John Henry Patterson pada tahun 1898. Singa Tsavo pun melegenda sebagai singa pemangsa manusia, bahkan sempat beberapa kali diangkat menjadi kisah film layar lebar.

“Jarang sekali ada cerita singa membunuh manusia, karena memang bukan mangsanya. Sensasi kehadiran singa Tsavo itu yang bakal selalu diingat,” ungkap Hans Manangsang menyangkut asal nama Tsavo Lion Restaurant. Seekor singa jantan ditemani lima ekor singa betina, bakal menemani tamu menyantap hidangan di resto yang ada dalam kawasan BSMP. Singa dan manusia hanya dipisahkan kaca tempered bening setebal 22 mm. Tapi jangan takut, kawanan singa tak akan bisa menerobos masuk ruang makan. Masih ada barrier berupa badan air selebar lebih kurang 1 m yang membuat mereka ogah menyeberang.

Semua aktivitas kawanan Panthera leo dalam imitasi padang savana berhias bukit batu menjadi tontonan seru. Menggeliat usai tidur, menggaruk, mengasah kuku di pohon, telentang mandi matahari, dan minum di badan air yang menempel kaca seolah jadi menu pendamping hidangan olahan koki resto.

Singa jantan yang tiba-tiba muncul di belakang dinding kaca di belakang bartender pun menjadi objek menarik untuk diabadikan dengan kamera. Dan jangan kaget saat Anda tak kuat lagi menahan hasrat buang air. Di balik kaca toilet seekor singa bakal mondar-mandir mengawasi. Suara auman raja rimba yang serupa lenguhan sangat keras tak jarang terdengar memperkaya alunan musim ala Benua Afrika yang diputar. Jikalau beruntung bisa saja menjadi saksi singa kawin, yang tak perlu penghulu.

Bagaimana ke Sana?

Bali Safari & Marine Park cukup mudah dijangkau. Berada di wilayah Gianyar dan terletak di pinggir jalur jalan raya. Dari arah Denpasar masuk ke By Pass Padang Galak lalu belok ke By Pass Ida Bagus Mantra menuju Klungkung. Berada di sebelah kiri setelah melewati dua stasium pengisian BBM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s