Catatan “Pemburu” Lumba-lumba

kiluan

2 Mei
Sebuah surat elektronik dari seorang teman masuk. Berisi ajakan “berburu lumba-lumba” ke Teluk Kiluan, Lampung. Perjalanan berlangsung dari hari Jumat malam sampai Selasa pagi. Tak segera saya iyakan, karena harus menyesuaikan jadwal pekerjaan dulu. Tiga hari jelang keberangkatan, izin dari kantor akhirnya turun. Saya pun menggenapi kelompok kecil yang semula hanya terdiri dari 3 orang saja. Secara mendadak.

11 Mei, 22.00 WIB
Jumat malam berangkat dari Stasiun Gambir menggunakan bus DAMRI jurusan Bandar Lampung. Beda waktu pemesanan tiket membuat rombongan kecil harus terpisah dalam dua bus berlainan. Namun jam keberangkatan tetap berbarengan. Sayangnya dua bus terpaut lajunya sehingga saat masuk ke pelabuhan penyeberangan Merak terpisah. Alhasil dua bus tidak berada dalam kapal penyeberangan yang sama. Sebenarnya bukan masalah besar karena waktu pemberangkatan hanya berselang setengah jam saja.

12 Mei, 02.00 WIB
Kelas ekonomi di kapal penyeberangan sebenarnya tidak buruk kondisinya. Sayang kenyamanan hanya menjadi milik penumpang-penumpang yang datang cepat dan berani malu. Banyak penumpang menggunakan kursi-kursi untuk berbaring. Sehingga penumpang yang kalah cepat harus menyebar di lantai, selasar, dek atau mushola karena tak kebagian tempat duduk.

12 Mei, 08.00 WIB
Perjalanan naik kapal penyeberangan tak memakan waktu terlalu lama. Kira-kira dua jam kemudian kapal sudah menepi di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Ternyata kecepatan dua kapal penyeberangan yang ditumpangi juga terpaut. Satu bus akhirnya melaju terlebih dahulu menuju tanjung Karang, ibu kota Bandar Lampung. Pukul tujuh pagi bus pertama tiba di Stasiun Tanjung Karang, pemberhentian terakhir bus. Hampir dua jam berselang bus kedua baru datang karena sedikkit mengalami masalah di jalan.

12 Mei, 09.30 WIB
Setelah istirahat sebentar dan makan pagi, perjalanan berlanjut mengendarai mobil sewaan. Rute Tanjung Karang menuju Teluk Kiluan hampir tak ada hambatan. Meskipun masih ada sebagian badan jalan rusak yang harus dilewati. Namun ada yang terasa kurang. Selama perjalanan tak ditemui tempat yang cukup asyik untuk mampir berwisata kuliner khas Lampung. Perjalanan sebenarnya bisa ditempuh antara 4-5 jam saja. Tetapi kami menyempatkan diri mampir di Pantai Klara yang berada dalam jalur perjalanan. Namun membatalkan niat untuk menyeberang ke Pulau Kelagian yang tak jauh dari pantai Klara agar tak ketinggalan sunset di Kiluan. Turun dari mobil sewaan langsung dilanjutkan menunggang perahu motor kecil (ketinting) sekitar 10 menit ke P. Kelapa. Kami memang berencana menginap di pulau kecil tersebut.

12 Mei, 16.00 WIB
Sesampai P. Kelapa, berenang atau lebih tepatnya berendam di pantai yang dangkal menjadi pilihan aktivitas pertama. Air jernih dan pantai bersih membuat betah. Sayang pecahan-pecahan karang kasar yang memenuhi dasar pantai sedikit mengurangi kenyamanan. Pantai terlihat masih belum banyak tercemar. Bulu babi yang sering jadi indikator pencemaran satu area laut atau pantai tak terlihat. Setelah matahari semakin rendah, kami mulai berburu foto tak jauh dari penginapan sampai matahari terbenam (sunset). Malam hari saya sengaja beristirahat lebih awal agar pagi hari cukup fit untuk melahap menu utama: Berburu lumba-lumba.

13 Mei, 05.00 WIB
Persiapan dimulai sejak matahari terbit. Untuk mulai dolphin hunting harus menunggu ketinting (sebutan untuk perahu motor kecil). Perahu yang ditunggu baru datang lewat jam 06.00 WIB. Di Teluk Kiluan yang menghadap ke Samudera Hindia ini cukup banyak lumba-lumba yang terlihat hilir mudik dalam kelompok. Sayangnya tak begitu banyak yang bisa tertangkap kamera. Semakin siang, perahu yang berisi para turis tambah ramai. Konsentrasi kami semakin buyar, mamalia cerdas ini juga semakin jarang menampakkan diri.

pelangi

13 Mei, 09.00 WIB
Perburuan gagal total. Kebanyakan hanya sirip dan ekornya saja yang tertangkap lensa kamera. Setelah berembug, diputuskan untuk kembali ikut dolphin hunting keesokan harinya. Kami mewanti-wanti pemilik perahu agar datang tepat waktu (05.30 WIB) WIB, saat pelancong lain belum ramai.

13 Mei, 10.00 WIB
Hampir seharian kami memuaskan diri menjelajah seluruh sudut Pulau Kelapa yang bisa dijangkau. Sambil pelesir tentu saja sambil jepret sana jepret sini sesuai tujuan. Ada beberapa sudut di pulau kecil ini yang cukup menarik bagi peminat fotografi pemula seperti saya. Mulai dari batu-batu karang besar sebagai objek, mencoba “menangkap” pecahnya ombak, bermain cahaya matahari yang masuk di sela-sela pepohonan, sampai memcoba memotret pemandangan matahari tenggelam (sunset). Ada juga beberapa lokasi yang biasa digunakan untuk snorkeling, meskipun tak istimewa.

14 Mei, 05.00 WIB
Senin subuh kami kembali bersiap-siap berburu lumba-lumba. Meski tetap sedikit lambat, tetapi Ketinting kami datang lebih awal dari hari sebelumnya. Pelancong yang datang juga tidak seramai saat akhir pekan. Hasilnya memang cukup memuaskan, lebih banyak lumba-lumba yang berhasil diabadikan. Pengenalan medan di hari sebelumnya juga memberi keuntungan. Matahari yang masih rendah (baru terbit) juga memberi efek cahaya yang lebih menarik. Perburuan kali ini berhasil, untuk amatir seperti saya.

lumba2

14 Mei, 09.00 WIB
Kembali dari Dolphin Hunting, menyempatkan diri menjelajah sudut P. Kelapa lagi. Terutama ke tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi hari sebelumnya. Sebelum matahari sampai puncak, perjalanan pulang dimulai. Menuju Tanjung Karang kemudian mengarah Jakarta menjelang malam. Perjalanan ini kami tempuh dengan moda transportasi yang sama seperti saat berangkat.

14 Mei, 22.00 WIB
Naik Bus DAMRI, diseling naik kapal penyeberangan. Sama seperti saat berangkat, kali ini berempat dalam satu bus yang sama.

15 Mei, 07.00 WIB
Touch down. Stasiun Gambir, Jakarta. Akhir pesiar kami kali ini.

IKHTISAR
1. Penginapan di P. Kelapa termasuk sederhana, Anda bisa memilih menginap di daratan utama untuk fasilitas yang lebih baik. Tetapi menginap di P. Kelapa bagi saya tetap lebih menarik.
2. Satu kamar di P. Kelapa bisa menampung sekitar 5-6 orang. Kapal ketinting ada yang bisa menampung 2 penumpang (plus satu juru mudi), ada juga yang bisa menampung 3 penumpang. Jadi jika datang dengan kelompok berkelipatan 3 akan sedikit menghemat budget untuk sewa kamar dan ketinting.
3. Lebih baik untuk berangkat lebih pagi (sebelum pukul 06.00 WIB) atau memilih hari non-weekend saat melakukan Dolphin Hunting. Peluang bertemu lebih banyak lumba-lumba lebih terbuka.
4. Siapkan plastik atau bungkus kedap air untuk kamera untuk menghindari percikan air. Kemungkinan datannya hujan juga tak bisa diperhitungkan. Jika dianggap perlu bisa membawa jas hujan.
6. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari Jakarta. Budget yang dibutuhkan tak terlalu besar. P. Kiluan bisa jadi alternatif oke buat melancong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s