Taman Nasional Danau Sentarum

NOTE: Dimuat di majalah Flona edisi 53, terbit Juli 2007

sentarum
FOTO: View dari Bukit Tekenang

Menguber Arowana di Tempat Asalnya

Menelisik habitat asli arowana super red. Itu salah satu tujuan Flona bergabung dengan rombongan Ekspedisi Sentarum, April silam.

Matahari sudah sedikit condong ke barat ketika kami, rombongan ekspedisi Danau Sentarum, sampai di Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu. Ditempuh dengan 15 jam perjalanan darat dari Kota Pontianak. Bergegas kami memasukkan barang bawaan ke dalam Badong. Sejenis perahu penumpang dan barang yang akan kami pakai untuk mengarungi hulu sungai Kapuas menuju Danau Sentarum. Dari Suhaid pula ekspedisi akan bermula.

Danau Sentarum adalah sebuah kawasan taman nasional yang sangat unik. Berjarak sekitar 700 km dari Kota Pontianak. Luasnya mencapai 132.000 ha, merupakan daerah hutan rawa terbesar di Pulau Kalimantan. Ekosistemnya sangat dipengaruhi oleh musim. Saat musim hujan, terjadi air pasang membentuk gugusan danau yang jumlahnya puluhan. Sehingga hampir seluruh wilayahnya terendam air. Sementara saat musim kemarau air akan surut.

rawa
Pasang surut

Rasa penasaran membuat kami tak langsung beristirahat. Menunggang speed boat bergerak menyambangi tambak ikan arowana tradisional milik Haji Mustafa. Pria yang sudah puluhan tahun mengenal aro super red menegaskan informasi yang kami peroleh. “Sejak banyak ditangkap karena harganya mahal, sekarang arowana tidak lagi ditemukan di Sentarum. Memang pernah dilakukan pelepasan kembali, tetapi hasilnya tidak bisa terlacak,” ujarnya.
Perjalanan dengan Badong masih kami lanjutkan, karena toh masih banyak tempat menarik yang bisa ditemui di Danau Sentarum. Selimbau adalah persinggahan berikutnya. Di perkampungan sungai ini kami mulai merasakan bermalam di atas Badong. Panorama pagi hari di jembatan gantung Selimbau adalah target awal perjalanan. “Inilah Venezia versi Indonesia, rugi kalau sampai dilewatkan begitu saja,” ujar Henri Hamzah, manajer ekspor PT Inti Kapuas Arowana, Tbk.

Menjelang siang Badong melaju lagi, menuju Semangit. Keindahan hutan-hutan rawa di kiri-kanan badan air menjadi pemandangan sangat menakjubkan. Lebih dari 500 spesies tanaman menghuni Danau Sentarum. Sebagian besar berupa pohon dan semak, menghuni hutan rawa.

Jenis tanaman yang banyak dijumpai adalah Barringtonia acutangula disebut Putat, Syzygium clauviflora (masung), Carallia bracteacea (kayu taun) dan Shorea belangeran (kawi). Di bagian lain juga ditemukan jenis kayu macam kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), ramin (Gonystylus bancanus) dan keruing (Dipterocarpus spp.).

Asal arowana

Karena merupakan daerah perairan, ikan menjadi satwa penting. Tak kurang dari 200 spesies telah diidentifikasi. Tak heran kalau hampir seluruh penduduk Danau Sentarum bermata pencaharian sebagai nelayan. Ikan paling beken sampai manca negara adalah siluk merah (Schleropages formusus).

Sayangnya kami tidak bisa menemui satu ekor pun ikan yang lebih dikenal sebagai arowana super red ini. “Biasanya menghuni danau besar yang tidak kering saat surut, semisal di Danau Meliau. Mungkin di sana masih ada karena dilindungi oleh adat,” ujar Edy, salah satu nahkoda Badong.

nelayan

Ikan toman (Canna micropeltes), sejenis ikan gabus, adalah ikan yang cukup penting. Banyak dibesarkan secara tradisional dengan karamba kayu. Semua penduduk Semangit memiliki karamba yang sebagian diisi ikan belida (Notopterus chitala). “Ikan kecil yang tertangkap kami masukkan ke karamba untuk dipelihara. Setelah besar dijual, bisa sampai ke Sintang,” ujar Abang Ade, salah satu pembesar dan pengumpul ikan di Semangit.

Bagi para penyuka makanan dari ikan tentu bakalan terpuaskan. Karena selain itu masih banyak jenis ikan lain macam betutu (Oxyeleotris marmorata), jelawat (Leptobarbus hoeveni) dan ketutung (Balanthiochelios melanopterus). Juga ikan hias cantik musiman yakni botia (Botia macracanthus). Beberapa jenis satwa unik yang masih bisa ditemukan antara lain buaya muara (Crocodilus porosus) dan orang utan (Pongo pygmaeus).

Oleh-oleh berupa madu hutan, yang dihasilkan lebah Apis dorsata bisa dibawa pulang. Petani madu hutan yang berhimpun dalam periau ini membuat tikung. Kayu kasar yang diletakkan miring untuk tempat melekat sarang lebah. “Madu hutan kami tidak diperas, tanpa campuran dan minim campur tangan manusia,” ungkap Suriyanto, ketua periau di Semangit.

Kenangan Bukit Tekenang

Luangkan waktu untuk mengunjungi Bukit Tekenang. Melancong di Danau Sentarum tak ‘kan komplit sebelum sampai di bukit ini. Sebaiknya jadwalkan pada akhir perjalanan. Karena di tempat ini pesona Danau Sentarum bisa terpotret dengan sempurna. Bakalan menjadi puncak berwisata yang Anda lakukan.
Berpayahlah sedikit mendaki bukit di ketinggian. Melewati jalan setapak yang sudah tersedia meskipun semak di kanan kirinya sudah tumbuh melebat. Sesampai di puncak, Anda tak bakal kecewa. Sebagian kawasan Danau Sentarum bakal terlihat dengan jelas saat mengedarkan mata dari puncak bukit tekenang. Bahkan selama perjalanan naik, bisa juga sejenak berhenti untuk menikmati keindahannya.
Danau pun terlihat seperti lautan sangat luas. Airnya nampak jernih kehitaman, meskipun sebenarnya keruh. Sementara daratan-daratan kecil di dalamnya laksana pulau-pulau. Bagi saya seperti melihat miniatur dunia dari udara. Jika datang waktu senja, Anda akan mendapat bonus sunset yang menawan. Karena keelokannya pula, bukit ini dinamai tekenang. “Semua orang yang pernah naik ke puncaknya pasti akan terkenang keindahannya,” ujar Eddy, nahkoda Bandong yang kami tumpangi. Begitu juga dengan kami.

2 thoughts on “Taman Nasional Danau Sentarum

  1. thanks for your comment Steve.
    Bot sorry, i’m not an arowanas seller. i just wrote ma visit to captive breeding arowanas farm in Pontianak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s