solidaritas agama jambret?

Suatu sore di tahun 2004, tanggal tepatnya lupa. Aku masih ingat tahunnya, itu tahun pertama aku tinggal di Jakarta secara reguler. Seorang teman, kebetulan berjenis kelamin perempuan, dan aku naik angkutan umum. Sejenis metromini bernomor trayek P12 jurusan Senen-Kalideres.

Seperti sore-sore yang lain, lalu lintas jakarta “lumayan” muuuuaacet!. Apalagi setelah masuk jalan di depan ITC Roxy Mas. Temanku sampai tertidur, barangkali karena, saking capek. Menjelang pintu perlintasan kereta di dekat ITC, metromini terhenti karena lalu lintas sangat padat. Lantas seorang anak muda naik dari pintu depan. Ia berdiri persis di depanku (aku & temanku duduk di pinggir pintu depan). Tangannya menggenggam sesuatu. Akh, aku mengenali benda itu. Tak salah lagi, PISAU LIPAT! Wah, gawat nih.

Pisau lipat memang belum dibuka, ujung tajamnya masih belum “nongol”. Ia nampak menggerak-gerakkan gagang pisau, mungkin mau show off untuk menakuti. Lantas dipandanginya satu-persatu penumpang yang ada. Aku mencoba cuek dan sok tenang sambil terus memperhatikannya (padahal keder juga sih). Aku lirik temenku, masih sleeping beauty nih.

Si pemegang pisau lipat lantas mendekati seorang ibu yang duduk di seberangku. Lantas bertanya dengan suara pelan. Entah karena enggak pede atau disengaja supaya penumpang lain tidak ikut mendengar. Aku mencoba menyimak kalimatnya, tetapi tidak terdengar dengan sempurna. Tapi kira-kira begini ucapannya. “Bu minta kalungnya satu saja!,” ujar si pemuda.

Sang ibu nampak bingung, entah takut atau tidak mengerti yang dimau si penodong. Pisau memang masih terlipat, ujung tajamnya belum juga nongol. Aku lihat penumpang metromini wanita itu memang memakai beberapa perhiasan. Meskipun tidak terlalu menyolok. Sang ibu malah balik bertanya, tanda dia memang tak jelas apa yang diucap oleh sang muda. “Apa?” tanyanya.

Pemuda berpisau lipat itu mengulang permintaannya, tetapi sekali lagi aku tidak begitu jelas apa ucapannya. Yang jelas sang pemakai perhiasan masih nampak bingung, tetapi terlihat mulai paham apa maksud ucapan pemuda yang berdiri di depannya.

Metromini mulai bergerak karena mendapat ruang di depannya. Lantas hendak melaju. Situasi nampaknya kurang menguntungkan bagi si pemegang pisau terlipat. Sang muda nampak ragu dan celingak-celinguk peranda kuatir. Tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan yang cukup mengejutkanku. “IBU AGAMANYA APA?” Nah lo, apa hubungan antara penjambret dengan agama orang yang dijambret.

Si pemakai perhiasan lantas menyebut satu agama yang dianutnya. (Sengaja tidak saya tulis. Takut dianggap SARA). Begitu mendengar kata itu, badan pemegang pisau lipat itu berbalik sambil berkata. “Ya sudah lah,”. Lalu berlalu begitu saja. Ya, begitu saja.

Aku berkesimpulan, yang masih mungkin salah, sang muda menganut agama yang sama dengan si pemakai perhiasan. Tetapi emangnya ada aturan “dilarang menjambret orang yang seagama”. Akh, dunia memang semakin aneh saja.

 

Note: Jangan pake perhiasan yang mencolok waktu bepergian. Terutama kalau naik angkutan umum.

One thought on “solidaritas agama jambret?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s