TEMULAWAK SEMBUHKAN LEVER

DITULIS UNTUK MAJALAH FLONA (2005)

Pertengahan tahun 2001 Prajoto mulai mengalami gejala lemas, mudah capek dan kadang disertai mual. Puncaknya pada sebuah rapat MTI (Masyarakat Transparansi Indonesia), Prajoto jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah menjalani tes, skor SGPT-nya 645, padahal angka normalnya dibawah 40. Prajoto mengidap pembengkakan lever karena kecapekan akibat kesibukannya.

Selama dua minggu, Prajoto dirawat inap di RS. Pondok Indah. Prajoto juga mengalami demam yang tinggi. Dia diberi infus, obat lever dan tak diperbolehkan turun dari tempat tidur. Namun hasilnya tak terlalu menggembirakan. Selama pengobatan dua minggu itu skor SGPT-nya hanya turun menjadi 600.

Sehari kemudian, Prajoto memutuskan untuk berobat ke RS Raffles di Singapura. Diagnosa penyakit levernya dikuatkan disana. Tetapi seorang dokter di Singapura justru mengatakan suatu hal yang menarik perhatiannya: Untuk penyakit seperti ini, obatnya sebenarnya ada di negeri Anda sendiri, yakni temulawak.

Dari seorang teman yang pernah mengalami penyakit yang sama. Dia dapat info kalau temulawak memang mujarab. Apalagi setelah membaca beberapa buku yang juga mengatakan kalau temulawak benar-benar berkhasiat untuk lever. Alasan lainnya Prajoto pengin memakai bahan yang bebas dari bahan kimia karena takut efek sampingnya.

Setelah pulang ke Indonesia, Prajoto pun kemudian mengkonsumsi temulawak secara rutin. Tanpa memakai sama sekali obat dari dokter. Prajoto lebih memilih seduhan temulawak asli, bukan temulawak instan. Dia mengkonsumsinya 3 kali sehari.

Hasilnya sangat bagus, penurunannya cukup cepat. Setelah mengkonsumsinya selama sekitar 7 minggu, skor tes SGPTnya jadi 150. Setelah itu penurunan agak lambat, sampai 2 minggu kemudian SGPTnya menjadi 100. Setelah 10 hari berselang SGPTnya menjadi 32 ada dalam range normal. “Saya langsung meloncat dari tempat tidurnya karena sangat bahagia,” ujar Prajoto. Maklum saja selama hampir 3 bulan dia tak diperkenankan untuk turun dari pembaringan.

Untuk menjaga agar kondisinya tetap bagus, sampai sekarang Prajoto tetap mengkonsumsi temulawak. Namun konsumsinya diturunkan jadi 2 kali sehari. Dan sekarang skor SGPTnya dibawah 30. Seorang dokter berkomentar kalau lever sangat sehat layaknya lever bayi. Prajoto pun jadi yakin kalau Tuhan menganugerahi bahan alam untuk memecahkan semua problema kesehatan. Karena makin percaya dengan obat tradisional, kalau mengalami sakit kepala, prajoto mengandalkan kunyit untuk melawannya. Prajoto juga menyarankan bagi para orang sibuk dan pekerja keras untuk mengkonsumsi temulawak. Soalnya sangat rentan terserang penyakit lever.

Catatan:
SGPT (serum glutamate pyruvate transaminase)
Tes untuk mengukur jumlah ALT (alanine transaminase) dalam serum darah. ALT adalah enzim dalam lever yang berguna dalam metabolisme. Kalau lever rusak, ALT akan dilepas ke darah. Skor normal 5-69 units perliter. Lebih dari 69 tanda lever rusak.

Ny Kirana Prajoto:
Cara siapkan seduhan temulawak:
Temulawak segar dipotong-potong lalu jemur
Masak air kira-kira 2 gelas
Setelah mendidih masukkan segenggam temulawak kering
Tunggu sekitar 3 menit, sampai air jadi berwarna keruh
Ambil airnya, siap diminum dengan gula aren atau gula batu.

NARASUMBER:
Prajoto, SH, MA
Gelar SH dari fakultas hukum UI
Gelar MA dari Kyoto University
Pengamat hukum perbankan dan konsultan ekonomi
Tanggal lahir: 7 Maret 1953

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s