Wajah Emak

Flash back sebentar ya.

Suatu malam, lupa tepatnya, aku sedang nunggu bis di terminal blok M. Jam di handphone-ku menampakkan jam 8.30 malam. (aku memang tak pernah pake arloji). Bis jurusan Citraland (CL) yang kucari. Hampir setengah jam nongkrong di terminal, bis yang kutunggu tak datang-datang (hmm, mirip lirik lagu bis sekolah-nya Koes Plus ya). Datang seorang ibu yang menggandeng seorang remaja perempuan menghampiriku.

Si Ibu nanya, “Mas, bis patas ekonomi jurusan Kota ada enggak ya?”. Sebenarnya aku enggak terlalu yakin, tapi seingatku setelah ada busway jurusan Blok M-Kota, bis ke Kota di ubah jalurnya supaya enggak tumpang-tindih dengan busway. Akupun menjawab, “Maaf Bu, saya enggak tahu. Tapi kayaknya udah enggak ada, Ibu naik busway aja,” saranku.

Si ibu nampak bimbang lalu berujar lagi, “Wah enggak ada ya. Uang saya tinggal 3.000 enggak cukup buat naik berdua,” keluhnya. Aku pun maklum karena tiket busway kan 3.500. Ia pun menyambung, ”Maaf Mas, kalau boleh saya minta uang buat naik bus way. Kalau ada 5.000 mas,” pintanya.

Aku pun tanpa ragu merogoh kantung jeans dan mengulungkan uang 5.000. “Hari sudah malam, sebentar lagi jadwal bus way terakhir,” pikirku. Seingatku jadwal bus way terakhir jam 10.00 malam. Lantas aku bilang, “Beli tiket di bawah dulu, hati-hati bu,” ujarku.

Sang ibu mengucapkan terima kasih, lantas turun ke lobby terminal menggandeng anaknya. Aku pun melanjutkan “aktivitas” ku mengawasi bus yang ke arah CL. Mendadak terngiang di otakku, “Ibu tadi benar-benar mau ke kota atau cuma pura-pura supaya dapat uang ya?”. Tapi segera kuusir pikiran buruk itu. “Kalau pun pura-pura, Ia pasti memang butuh uang itu,” batinku yang entah mengapa langsung teringat pada wajah Emak-ku di rumah.

Lama aku menunggu bis yang tak juga datang, mungkin 30 menit setelah pertemuanku dengan ibu-anak tadi. Ketika aku menoleh, aku lihat ibu-anak tadi masuk lagi di jalur lain dan mendekati seseorang dan nampak berbincang. “Wah ketipu deh!” begitu pikirku. Aku tak lagi memperhatikan mereka dan membatin. “Akh biarlah, mungkin mereka masih mencari bis patas jurusan kota. Semoga uang yang kuberikan bermanfaat.” Wajah Emak-ku lagi-lagi menghampiri.

(Note: kalau memang ikhlas kok Aku masih terpikir sampai sekarang. Akh Aku ‘kan cuma mau share aja. Ha..ha..)

 

Hari ini,

Kira-kira pukul 2 siang, sendirian aku turun dari bis di Citraland (CL). Barusan bertemu orang untuk urusan kerja di Cipete. Perutku sudah terasa lapar, nampaknya para cacing sudah minta jatah. “Ya udah deh, makan,”. Aku pilih makan ayam bakar di sebuah warung tenda langgananku tak jauh CL. Kebetulan satu arah dengan tempat ngetem angkutan KWK yang mengarah ke kantorku.

Pas selesai makan, datang seorang pria, yang dibahunya nyantol tas besar warna biru tua. Sementara tangannya menenteng sepasang sandal yang terlihat kinclong. “Oh, penjual sandal pasti,” batinku.

Sesaat Ia menoleh ke arahku, lantas bergegas menghampiriku yang sedang membasuh tangan usai makan. “Mas, beli sendal. Murah, cuma 8.000 saja,” tawarnya padaku. Karena aku sedang tidak berniat beli sandal, langsung kujawab, “Maaf. Enggak mas,” ujarku singkat. Ia melanjutkan, ”Buat penglaris mas, sudah tiga hari enggak ada yang beli,”. Aku berpikir, “Akh, standar. Pasti trik dagang nih,” dan berkata lagi, “Enggak mas, sandalku masih bagus.”

Tiba-tiba sang penjual sandal bicara lagi saat aku hendak membayar makananku. Dengan logat sunda yang masih tertinggal Ia berucap, “Kalau begitu saya minta dibelikan makan mas. Atau sisa makanan mas, juga enggak apa-apa. Dari pagi saya belum makan mas.” Aku terkejut, karena belum pernah ada penjual yang minta makan.

Tapi Aku cuek, dan berlalu setelah menerima kembalian dari pedagang ayam bakar. Lalu terdengar sang penjual sandal menggerutu, kelihatannya mangkel alias kesal padaku. “Cccck…,” Mendengar itu aku makin tidak simpati dan melanjutkan langkahku keluar dari warung.

Aku bergegas naik KWK yang mengarah ke kantorku di Kebon Jeruk. KWK masih ngetem untuk menunggu penumpang. Begitu duduk di pikiranku muncul bayangan sang penjual sandal. “Mukanya kelihatan dipenuhi peluh. Warna merah yang muncul di wajah, mungkin akibat kelelahan karena berjalan jauh, tak mampu menutupi wajah pucatnya.” Itu bayangan yang muncul diotakku.

“Akh, barangkali Ia memang belum makan sejak tadi pagi. Akh, kenapa aku tak memperhatikan wajah pucat dan peluhnya ketika berhadapan muka tadi,” keluhku. Bergegas lagi aku turun dari KWK yang memang belum juga bergerak sedari aku naik. Kembali aku ke tenda penjual ayam bakar. Akh, dia sudah tidak di sana. Tengok kiri-kanan tak kutemukan bayangannya sekalipun.

Akh, mendadak Aku teringat wajah Bapak dan saudara-saudaraku di rumah.

One thought on “Wajah Emak

  1. Pengalaman yang sama, cuma tempat berbeda. Di Terminal Parung juga kaya gitu.. Ibu-ibu yang sama, jam operasi kapan aja, tempat mangkal sama, pertanyaan yang sama, “Kalo ke Ciseeng naik apa?” kalo dijawab, pasti kelanjutannya minta ongkos.. Pertemuan pertama ngebikin kasian, walaupun emang ga bisa bantu. Tapi kok yo ada pertemuan kedua.. Kaya rendevouz… Tapi yang kali ini dia pake teriak2 dan marah2.. Trus besok2nya lagi masih ngeliat ibu2 itu di tempat yang sama. Mungkin cari korban baru..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s